Indonesiakitanews.com – Jakarta. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengambil langkah strategis untuk menyelesaikan utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) alias Whoosh, yang mengalami pembengkakan biaya sekitar US$1,2 miliar.
COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan, “Kami tengah mengevaluasi opsi restrukturisasi utang bersama KAI, termasuk negosiasi ulang dengan pihak China, agar proyek tetap berjalan tanpa membebani keuangan negara lebih jauh” (kumparan.com).
Menteri BUMN Erick Thohir menambahkan, “Dengan dukungan Danantara, proyek ini diharapkan tetap selesai tepat waktu dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat” (ekonomi.bisnis.com).
Potensi Untung dan Risiko
Keuntungan:
- Menjamin keberlanjutan proyek, mempercepat konektivitas Jakarta–Bandung.
- Memperkuat reputasi Danantara sebagai pengelola investasi strategis nasional.
Risiko:
- Beban keuangan tambahan dan kemungkinan tekanan arus kas.
- Ketergantungan pada target penumpang dan pendapatan operasional.
- Risiko politik dan hukum terkait kebijakan BUMN dan persetujuan pemerintah.
Langkah Danantara menalangi utang Whoosh menjadi strategi penting untuk memastikan kelanjutan proyek, namun keberhasilan akan bergantung pada manajemen risiko, negosiasi dengan pihak China, dan pencapaian target operasional. Dengan pengelolaan yang tepat, proyek ini bisa menjadi simbol modernisasi transportasi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Jakarta–Bandung.(red.hai)








