Indonesiakitanews.com – Penajam — LSM Guntur menggelar audiensi dengan pihak RSUD Ratu Aji Putri Botung, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Agenda tersebut dilakukan menyusul menyeruaknya berbagai isu dan keluhan masyarakat terkait layanan kesehatan yang dinilai belum berjalan maksimal.
Dalam audiensi tersebut, LSM Guntur mempertanyakan secara langsung alasan lambannya pelayanan kesehatan di RSUD PPU. Pertanyaan tersebut mengemuka mengingat di sisi lain Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara telah mengalokasikan dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dalam jumlah yang dinilai cukup besar kepada pihak rumah sakit.
Namun, dalam forum audiensi itu terungkap fakta bahwa dana BLUD sebesar Rp50 miliar yang diterima RSUD Ratu Aji Putri Botung ternyata belum mampu menutup seluruh kebutuhan operasional. Bahkan hingga saat ini, pihak RSUD masih menanggung utang sebesar Rp15 miliar.
“Kami memang menerima dana BLUD sebesar Rp50 miliar, tetapi dana tersebut belum cukup. Sampai hari ini total utang RSUD masih sebesar Rp15 miliar, meliputi utang honor tenaga kesehatan dan pengadaan obat-obatan,” ungkap dr. Lukasiwan Eddy Saputro, M.M Kepala RSUD Putri Aji Botung PPU dalam audiensi tersebut.
Selain persoalan anggaran, audiensi juga mengungkap kekurangan serius pada jumlah tenaga kesehatan. Pihak RSUD menjelaskan bahwa idealnya rumah sakit membutuhkan tambahan sekitar 50 tenaga kesehatan untuk menunjang pelayanan. Namun rencana penambahan tersebut belum dapat direalisasikan karena keterbatasan dana.

Pihak RSUD juga memaparkan bahwa layanan BPJS Kesehatan belum dapat berjalan maksimal. Selain minimnya jumlah tenaga kesehatan, keterbatasan ruang rawat inap menjadi kendala utama, sementara jumlah pasien terus membludak. Kondisi inilah yang membuat pihak RSUD kerap mengarahkan pasien untuk berobat ke Balikpapan melalui mekanisme rujukan.
Menanggapi berbagai penjelasan tersebut, LSM Guntur menegaskan bahwa kehadirannya dalam audiensi bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan untuk berdialog secara langsung agar dapat memahami persoalan yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“Kami ingin mendengar langsung, supaya tidak hanya menilai dari satu sisi. Ini bagian dari upaya mencari solusi,” ujar Jafar salah seorang pengurus inti LSM Guntur.
Bahrani, Pengurus LSM Guntur juga menegaskan bahwa lembaga swadaya masyarakat merupakan mitra bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelayanan publik. Prinsip dasarnya adalah menjalankan fungsi check and balance, sekaligus menjadi penyambung lidah masyarakat serta jembatan komunikasi antara RSUD dan Bupati PPU apabila dipandang perlu.
Meski menyayangkan banyaknya keluhan masyarakat terhadap layanan kesehatan di RSUD PPU, Kasim Assegaf, Ketua LSM Guntur mengaku kini telah memahami persoalan mendasar yang dihadapi pihak rumah sakit. Ke depan, LSM Guntur menyatakan akan berupaya melakukan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pelayanan kesehatan benar-benar menjadi prioritas bersama di Kabupaten Penajam Paser Utara.(red.hai).






