Indonesiakitanews.com – Penajam – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digulirkan pemerintah sebagai bagian dari kebijakan peningkatan gizi anak sekolah, kembali menelan korban. Sebanyak 22 siswa SDN 08 Waru diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu MBG pada Rabu (11/2/2026).
Para siswa kemudian menjalani perawatan intensif setelah mengalami gejala mual, pusing dan gangguan pencernaan.
Kejadian ini kembali mencuat di tengah kritik yang terus menguat terhadap pelaksanaan MBG di berbagai daerah. Warga dan orang tua siswa menyatakan kekhawatirannya karena kasus serupa bukan kali pertama terjadi di Indonesia.
Wakil Bupati dan Tim Dinas Pendidikan Langsung Respons
Menanggapi insiden tersebut, Wakil Bupati Penajam Paser Utara (PPU) bersama Dr. Indrayani, M.Pd., Tenaga Ahli Dinas Pendidikan Kabupaten PPU, langsung turun ke lokasi kejadian melihat kondisi para siswa yang menjadi korban.
Indrayani menjelaskan bahwa dirinya diperintahkan oleh sekretaris dinas untuk segera meninjau langsung kasus ini. Ia mengakui bahwa dugaan keracunan massal di SDN 08 Waru saat ini sedang dalam proses investigasi lebih lanjut, untuk mengetahui penyebab pasti dari gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
LSM Guntur: MBG Tak Efektif untuk Gizi dan Ekonomi
Kritik pedas datang dari Ketua LSM Guntur, Kasim Assegaf. Menurut Kasim, berdasarkan pengamatan dan analisis lembaganya, program MBG belum memberikan dampak nyata terhadap perkembangan gizi anak maupun pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama di level UMKM lokal.
“Kami tidak melihat adanya dampak positif yang signifikan baik dari sisi kesehatan maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal,” ujar Kasim dalam keterangannya kepada media.
Kasim menyoroti fenomena keracunan yang terus terjadi. “Data menunjukkan program MBG telah menelan korban keracunan lebih dari ribuan siswa di berbagai daerah,” katanya, mengutip data upaya pemantauan nasional.
Data Nasional: Ribuan Siswa Jadi Korban Keracunan MBG
Berdasarkan catatan lembaga pemantau pendidikan dan data gabungan beberapa organisasi masyarakat sipil, jumlah korban keracunan akibat menu MBG telah mencapai angka yang mengkhawatirkan:
- Menurut data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) ±11.566 orang hingga pertengahan Oktober 2025.
- Data menurut suara.com menunjukkan ±16.109 korban keracunan hingga akhir Oktober 2025, dengan lonjakan kasus di berbagai provinsi.
- Sementara menurut laporan Badan Gizi Nasional (BGN), MBG menyumbang sekitar 48 persen dari total kasus keracunan makanan di Indonesia tahun 2025.
Insiden ini tersebar di sejumlah daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan wilayah lain di luar Pulau Jawa, menimbulkan respons dari sekolah, orang tua siswa, dan lembaga masyarakat.
Kritik Tajam: Tata Kelola dan Ekonomi Lokal
Kasim menegaskan, selain masalah kesehatan, MBG juga dinilai gagal dalam memenuhi janji memberdayakan ekonomi lokal. Menurutnya, banyak logistik dan bahan pangan tidak bersumber dari UMKM atau petani setempat, melainkan dari distributor besar. Padahal tujuan MBG salah satunya adalah menghidupkan perekonomian masyarakat lokal.
“Jangan sampai program ini hanya jadi narasi viral, tetapi minim dampak positif bahkan berdampak negatif bagi masyarakat,” tegasnya.
LSM Guntur mendesak agar pemerintah daerah bersikap tegas kepada setiap SPPG yang ada di PPU serta memperkuat pengawasan, sertifikasi higienis dapur MBG, serta memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal.(red/mar)










