Indonesiakitanews.com – Jakarta – Menjelang gelaran musik elektronik Djakarta Warehouse Project (DWP) 2025 yang akan berlangsung di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengungkap enam jaringan peredaran narkoba. Pengungkapan ini dilakukan jauh sebelum festival digelar dan menyasar bandar serta pengedar, bukan penonton.
Jaringan tersebut diduga tengah menyiapkan pasokan narkotika untuk sekitar 25 ribu pengunjung yang diperkirakan memadati acara selama tiga hari. Operasi kepolisian dilakukan melalui persiapan panjang selama berbulan-bulan, meliputi pemetaan jaringan, pemanfaatan teknologi informasi, serta koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wilayah Bali–Nusa Tenggara.
Puluhan personel diterjunkan untuk memantau pergerakan para pelaku. Dari hasil operasi tersebut, aparat menyita puluhan kilogram narkoba berbagai jenis, antara lain sabu, ekstasi, MDMA, ketamin, kokain, ganja, dan happy water. Nilai total barang bukti ditaksir melebihi Rp60 miliar. Sebanyak 17 orang diamankan, sementara tujuh lainnya masih berstatus buron. Beberapa tersangka diketahui terhubung dengan jaringan lintas kota hingga lintas negara.
Polisi mengungkap para pengedar menggunakan beragam modus, mulai dari sistem tempel tanpa pertemuan langsung, transaksi tunai di lokasi, hingga pembayaran melalui transfer bank sebelum barang dikirim. Aparat juga menemukan upaya penyelundupan kokain melalui bagasi pesawat dengan menyamarkan paket kecil di antara pakaian agar lolos pemeriksaan. Saat festival berlangsung, penyidik tetap diterjunkan ke lokasi dengan cara membaur bersama penonton, sembari pengembangan jaringan terus dilakukan pasca-acara.
Perubahan pola penindakan ini merupakan hasil evaluasi dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Pada DWP 2024 dan beberapa edisi sebelumnya, penindakan lebih banyak difokuskan di dalam area konser dan menyasar pengguna. Pendekatan tersebut justru memunculkan tudingan pemerasan terhadap penonton serta meninggalkan catatan negatif dalam praktik penegakan hukum.
Belajar dari situasi tersebut, aparat tahun ini menggeser fokus ke hulu dengan membongkar sindikat sebelum hari pelaksanaan. Strategi ini diharapkan mampu memutus rantai pasokan narkoba sejak awal, sekaligus meminimalkan gesekan dengan penonton yang datang secara legal.
Festival musik berskala besar seperti DWP memang kerap menjadi target jaringan narkoba. Luasnya area, tingginya mobilitas massa, dominasi penonton muda, serta kehadiran ribuan warga negara asing menciptakan celah yang rawan dimanfaatkan. Karena itu, DWP termasuk agenda yang mendapat pengamanan ekstra mengingat rekam jejaknya yang berulang kali bersinggungan dengan kasus narkotika.
Kisah pengamanan DWP 2025 menunjukkan tarik-menarik antara industri hiburan dan kejahatan terorganisasi. Arus manusia, uang, dan interaksi dalam ruang padat membentuk ekosistem yang rawan disusupi. Mengalihkan fokus penindakan dari pengguna ke bandar dinilai lebih adil dan efektif karena menghentikan suplai dari sumbernya, sekaligus mengurangi stigma terhadap penonton.
Namun demikian, keberhasilan strategi ini tetap bergantung pada akuntabilitas aparat, transparansi prosedur, serta ketajaman intelijen dalam membaca peta jaringan. Di sisi lain, penyelenggara acara juga dituntut mengintegrasikan aspek keamanan dalam desain festival, mulai dari pengaturan alur masuk, titik pengawasan, hingga edukasi publik. Ruang hiburan diharapkan tetap menjadi tempat berekspresi, tanpa berubah menjadi arena peredaran narkoba.(red).











